Monday, March 4, 2013 11:22 PM

PROPOSAL PENELITIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rakhmt dan hidayah-Nya sehingga proposal penelitian yng berjudul “Penerapan Teori Brunner Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SMP/MTs terhadap Konsep Keliling dan Luas Daerah Bangun Datar” ini dapat diselesaikan.
            Penyusunan proposal penelitian ini diajukan untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Tadris Matematika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon.
            Penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya proposal ini. Penulis menyadari bhwa proposal ini tidak serta merta hadir tanpa bantuan dan dukungandari semua pihak. Mudah-mudahan segala sesuatu yang telah diberikan menjadi bermanfaat dan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.
            Penulis memahami sepenuhnya bahwa proposal ini tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangan diharapkan demi perbaikan di masa mendatang. Semoga proposal ini dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca untuk melakukan hal yang lebih baik lagi dan semoga proposal penelitian ini bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
                                                                                        Kuningan, 25 Mei 2012
                                                                                                   Penulis,

                                                                                              Hera Herawati
             





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang Masalah
B.     Identifikasi Masalah
C.     Pembatasan Masalah
D.    Rumusan Masalah
E.     Tujuan penelitian
F.      Manfaat Penelitian
BAB II KERANGKA TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR
A.    Kerangka teoritis
Teori Brunner
B.     Kerangka Berfikir
C.     Hipotesis Tindakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A.    Setting dan Karakteristik Penelitian
1.      Tempat dan Waktu Penelitian
2.      Subyek Penelitian
B.     Prosedur Penelitian
C.     Jenis Penelitian
D.    Instrument Penelitian
E.     Teknik pengolahan Data
F.      Teknik Pengumpulan Data
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha membudayakan manusia. Pendidikan sangat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan guna meningkatkan mutu bangsa secara meneyeluruh, salah satunya dengan pendekatan materi dan strategi pembelajaran yang tidak hanya terarah dan terfokus pada teori saja, tetapi dapat meningkatkan kemampuan yang ada pada diri seseorang. Pembelajaran adalah kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik. 2008:57). Sepanjang perjalanannya proses pembelajaran tidak sepenuhnya mengalami kemajuan melainkan ada kendala-kendala yang harus dihadapi, khususnya dalam memahami konsep suatu materi terutama dalam pembelajaran matematika.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting diajarkan pada peserta didik (siswa). Dalam pedoman penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama dijelaskan tujuan pengajaran matematika pada pendidikan dasar ( Depdiknas, 2006:8) antara lain agar siswa memahami konsep matematika secara luwes, akurat, efesien, dan tepat serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu atau kritis, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya sendiri dalam pemecahan masalah.
Matematika dikenal sebagai ilmu pengetahuan yang abstrak, terstuktur, kritis, logis dan cermat. Siswa menganggap bahwa matematika adalah ilmu yang sulit dipelajari dan membosankan terlebih melihat hapalan rumus yang tampak rumit dan hitungan yang sulit. Ditambah dengan pembelajaran yang kurang menyenangkan masih dipenuhi beragam kegiatan yang verbalistik dan mekanis. Materi dan strategi pembelajaran tidak terarah dan terfokus pada peningkatan kemampuan intelektual saja, sehingga tidak mengherankan pembelajaran hapalan rumus dan hitungan angka-angka kurang merangsang pemahaman siswa terhadap matematika secara efektif. Selain itu juga siswa tidak dapat menganalisis dan memahami sebab akibat terjadinya sesuatu serta sulit memecahkan masalah dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Akhirnya, mereka kurang kreatif menggunakan logika untuk memecahkan semuanya.
Dengan mencermati  juga bahwa di Mts Negeri Darma memiliki kualitas guru yang cukup tinggi ( 99% sarjana), memiliki alat peraga matematika dan buku-buku yang cukup serta lingkungan sekolah yang mendukung, maka dapat dipahami bahwa rendahnya  hasil belajar matematika yang diperoleh siswa disebabkan karena belum diterapkannya model pembelajaran yang dapat membelajarkan siswa secara mandiri, dan dapat membangun kemampuan dan pengetahuan secara bertahap dengan memanfaatkan lingkungan belajar sebagai media pengajaran untuk meningkatkan pemahaman matematika terutama pada pokok bahasan segi empat dan segi tiga.
Mengingat masalah di atas, sehingga diperlukan strategi pembelajaran yang yang paling efektif dan efisien untuk menciptakan pengalaman belajar yang baik. Namun perlu diingat bahwa tidak ada satupun strategi pembelajaran yang paling sesuai untuk semua kondisi dan situasi yang berbeda, walaupun tujuan pembelajaran yang ingin dicapai sama. Dalam proposal ini lebih menekankan pada penerapan Teori Brunner. Adapun jenis penelitian yang sesuai adalah penelitian tindakan kelas ini adalah deskriptif kuantitatif.
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.      Penerapan teori Brunner dalam pembelajaran matematika dapat mengoptimalkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan/diberikan oleh guru.
2.      Penerapan teori Brunner dalam pembelajaran matematika merupakan metode yang tepat dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
3.      Siswa MTsN Darma dalam menyelesaikan soal cerita metematika, khususnya  materi bangun datar mengalami hambatan dalam:
a.         Memahami makna setiap kalimat yang ada dalam soal cerita.
b.      Kurang mampu dalam merumuskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan,   kurang bisa menghubungkan secara fungsional unsur-unsur yang diketahui untuk menyelesaikan masalahnya.
c.       Masih banyak yang belum memahami konsep dari materi yang di ajarkan.
4.       Penerapan teori Brunner dalam pembelajaran matematika dapat memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
C.      Pembatasan Masalah
        Bertolak dari pemikiran di atas, maka tidak mungkin peneliti dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang telah di identifikasi di atas dalam satu kali penelitian. Hal ini disebabkn pada berbagai keterbatasan yang ada pada diri peneliti, baik dari kemampuan meneliti, waktu, tenaga dan biaya yang diperlukan dalam melaksanakan penelitian tersebut. Oleh karena itu, masalah dalam penelitian ini di batasi pada hal-hal berikut:
a.       Penerapan teori Brunner dalam pembelajaran matematika dapat mengoptimalkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan/diberikan oleh guru.
b.      Penerapan teori Brunner dalam pembelajaran matematika merupakan metode yang tepat dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
c.       Penerapan teori Brunner dalam pembelajaran matematika dapat memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
D.    Rumusan Masalah
        Atas dasar identifikasi penyebab masalah yang telah diuraikan pada latar belakang di atas, maka masalah yang dihadapi adalah sebagai berikut:
        Apakah penerapan Teori Brunner dapat meningkatkan pemahaman siswa kelas VII MTsN Darma terhadap konep bangun datar?
Bentuk tindakan pemecahan masalah
Untuk menjawab masalah tersebut di atas, maka secara kolaboratif, bentuk tindakan untuk memecahkan masalahnya adalah dengan diterapkannya Teori Brunner yang berbasis penemuan (inquiry). Implementasi/penerapan model pembelajaran tersebut akan diteliti secara kolaboratif melalui Penilitian Tindakan Kelas. Kolaboratif di lakukan oleh peneliti dengan dibantu guru pelajaran matematika yang lain.


E.     Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan melalui PTK, maka penelitian tindakan berbasis kelas yang akan dilaksanakan ini memiliki tujuan untuk:
a.       Untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui penerapan Teori Brunner berbasis Inquiry pada pembelajaran matematika.
b.      Untuk mengetahui sejauh mana penerapan teori Brunner dapat mengoptimalkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
c.       Untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika.
F.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
a.       Dapat membentuk dan mengembangkan “sel-consept” pada diri siswa sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar .
b.      Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka.
c.       Mendorong siswa untuk belajar intuitif dan merumuskan hipotesis sendiri.
d.      Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang.

2.      Manfaat praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat sebagai berikut:
a.       Bagi penulis, dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan teori Brunner yang berbasis inquiry dalam pembelajaran matematika.
b.      Bagi guru matematika, dapat digunakan sebagai masukan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami siswa khususnya guru kelas VIII.
c.       Bagi siswa terutama sebagai subjek penelitian, diharapkan dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih bervariasi dan menarik, kreatif, aktif, efektif dalam pembelajaran matematika.









BAB II
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA BERFIKIR

A.                KERANGKA TEORI
1.      TEORI BELAJAR BRUNNER
            Teori belajar Brunner sebagaimana yang dikutip oleh Muhibin Syah ( Muhibin Syah. 2009:40-43). Brunner lebih menekankan terhadap proses belajar daripada prestasi belajar. Oleh sebab itu, proses belajar merupakan factor yang menentukan dalam pembelajaran dibandingkan dengan pemerolehan suatu kemampun khusus. Jarome Brunner seorang ahli psikologi Havard adalah seorang pelopor pengembangan kurikulum terutama dengan teori yang dikenal dengan pembelajaran penemuan (inkuiri). (Trianto . 2010: 79).
Inquiry adalah istilah dalam bahasa Inggris yang merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar di depan kelas. Guru menggunakan  teknik ini sewaktu mengajar memiliki tujuan agar siswa terangsang oleh tugas dan akhirnya siswa aktif mencari dan meneliti sendiri pemecahan masalah itu ( Roestiyah .1990: 76).
Dalam hubungannya dengan discovery-inquiry, Robert B menyatakan bahwa discovery adalah proses mental dimana anak/individu mengasimilasi konsep dan prinsip. Pada inkuiry mengandung proses-proses mental yang tingkatannya lebih tinggi dari pada discovery. Proses mental yang terdapat dalam inkuiry adalah meumuskan masalah, membuat hipotesis, mendesain eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan.
Teori Brunner yang selanjutnya disebut pembelajaran penemuan (inkuiri) ini adalah suatu pengajaran yang menekankan pentingya pemahaman tentang struktur materi (ide kunci) dari suatu ilmu yang dipelajari, perlu belajar aktif sebagai dasar dari pemahaman sebenarnya, dan nilai dari berfikir secara induktif dalam belajaar (pembelajaran yang sebenarnya terjadi melalui penemuan pribadi). Oleh karena itu guru harus memunculkan masalah yang mendorong siswa untuk melakukan kegiatan penemuan.
Dengan metode ini anak di dorong untuk memahami suatu fakta atau hubungan matematika yang belum dia pahami sebelumnya dan belum diberikan kepadanya secara langsung oleh orang lain. Menurut Brunner dalam mempelajari matematika seorang anak perlu secara langsung menggunakan bahan-bahan manipulative. Bahan manipulative merupakan benda konkrit yang dirancang khusus dan dapat diotak-atik oleh siswa dalam berusaha untuk memahami konsep matematika.
Aplikasi ide-ide Brunner dalam pembelajaran menurut Woolfolk,(1997:320) digambarkan sebagai berikut:
1. Memberikan contoh dan bukan contoh dari konsep yang dipelajari;
2. Membantu siswa mencari hubungan antara konsep;
3.Mengajukan pertanyaan dan membiarkan siswa mencoba menemukan sendiri  jawabannya;
4. Mendorong siswa untuk membuat dugaan yang bersifat intuitif.
Brunner mengemukakan bahwa dalam proses belajar, siswa melewati 3(tiga) tahap yaitu:
1). Tahap Enactive
Dalam tahap ini siswa secara langsung terlibat dalam hal memanipulasi objek atau benda-benda konkrit dalam belajar.
2). Tahap Iconic
Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan siswa berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.
3). Tahap Simbolic
Dalam tahap ini siswa memanipulasi symbol atau lambing-lambang objek tertentu.
Dari hasil pengamatan Brunner sebagaimana dikutip oleh Asri Budiningsih ( Asri Budiningsih.2005:41-43) ke sekolah-sekolah diperoleh beberapa kesimpulan yang melahirkan dalil-dalil, diantaranya adalah:
a.       Dalil Penyusunan (Kontruksi)
Dalil ini menyatakan bahwa siswa ingin selalu mempunyai kemampuan dalam hal menguasai konsep, teorema, definisi dan semacamnya. Untuk meletakkan idea tau definisi tertentu dalam pikiran siswa harus menguasai konsep dengan mencobanya dan melakukannya sendiri. Dengan demikian konsep yang dilakukan dengan jalan memperlihatkan representasi konsep tersebut maka siswa akan lebih memahaminya. Apabila dalam proses penyususnan dan perumusan ide-ide tersebut disertai dengan benda-benda konkrit maka siswa akan lebih mudah mengingat ide-ide yang dipelajarinya itu. Dalam tahapan ini siswa akan memperoleh penguatan yang diakibatkan interaksinya dengan benda-benda konkrit yang dimanipulasinya. Dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya dalam tahap awal pemahaman konsep diperlukan aktivitas-aktivitas konkrit yang mengantar siswa pada pengertian konsep.
b.      Dalil Notasi
Dalil notasi mengungkapkan bahwa dalam penyajian konsep notasi memegang peranan penting. Notasi yang digunakan dalam menyatakan sebuah konsep tertentu harus disesuaikan dengan tahap perkembangan mental siswa. Notasi yang diberikan tahap demi tahap ini sifatnya beerurutan dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Penyajian seperti ini dalam matematika merupakan pendekatan spiral. Dalam pendekatan spiral setiap ide yang disajikan secara sistematis dengan menggunakan notasi-notasi yang bertingkat. Pada tahap awal notasi ini sederhana, diikuti notasi berikutnya yang lebih kompleks. Notasi yang terakhir mungkin belum dikenal sebelumnyaoleh siswa, umumnya merupakan notasi yang akan banyak digunakan dalam pengembangan konsep matematika selanjutnya.
c.       Dalil Pengkontrasan dan Keanekaragaman
Dalam dalil ini dinyatakan bahwa pengkontrasan dan keanekaragaman sangat penting dalam melakukan pengubahan konsep matematika dari konsep konkrit ke konsep yang lebih abstak. Diperlukan contoh-contoh yang banyak sehingga siswa mengetahui karakteristik konsep tersebut. Contoh yang diberikan harus sesuai dengan rumusan atau teorema yang diberikan. Tetapi tidak menutup kemungkinan jika kita memberikan conto-contoh yang tidak memenuhi rumusan, sifat atau teorema dengan harapan agar siswa tidak mengalami salah pengertian terhadap konsep yang sedang dipelajarinya. Konsep yang diterangkan dengan contoh dan bukan contoh adalah salah satu pengkontrasan. Melalui cara ini siswa akan mudah memahami arti dan karakteristik yang diberikan terebut. Keanekaragaman juga membantu siswa dalam memahami konsep yang disajikan.  
d.      Dalil Pengaitan (Konektivitas)
Dalil ini menyatakan bahwa dalam matematika antar satu konsep dengan konsep lainnya terdapat hubungan yang erat, bukan saja dari segi isi namun juga dari segi rumus yang digunakan. Materi yang satu merupakan prasyarat bagi yang lain atau suatu konsep tertentu diperlukan untuk menjelaskan konsep lainnya. 
Teori belajar Brunner merupakan pengembangan dari teori Gestalt insightful learning. Dalam teori Brunner dikatakan untuk mendapatkan pemahaman belajar dengan menemukan sendiri. Pemahaman peserta didik didapatka secara induktif. Namun demikian teori juga ada kelemahannya, yaitu memerlukan banyak biaya, waktu lama dan kepemilikan teori dasar mutlak diperlukan. Untuk mengurangi kekurangan tersebut ada pengembangan teori ini dengan tetap membangun kerangka kognitif sendiri tidak dengan induktif tetapi deduktif. Jadi peserta tidak harus mengalami sendiri (Junaedi dkk. 2008: paket 2-11).
B.                 KERANGKA BERFIKIR
        Kebanyakan para siswa berpendapat bahwa matematika itu pembelajaran yang menjenuhkan, sulit, sukar dan bahkan yang lebih ektrimnya lagi banyak siswa yang beranggapan bahwa matematika itu menyeramkan. Hal itu merupakan sifat yang wajar mengingat matematika itu sendiri adalah abstrak dan dalam belajar matematika banyak bermain dengan angka sehingga banyak menguras otak yang berakibat cepat lelah dan pusing.
        Proses pembelajaran merupakan suatu kontak social antara guru dengan siswa dalam rangka mencapai tujuan tertentu yakni tujuan pendidikan dan pengajaran (Muhammad Surya.2004 :13). Dalam proses ini bukan hanya guru yang aktif memberi pelajaran sedang murid secara pasif menerima pelajaran, melainkan keduanya harus aktif. Karena ketika siswa belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktivitas belajar. Dengan ini secara aktif mereka menggunakan otak, baik untuk ide pokok dari materi yang di pelajari, memecahkan persoalan atau mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Jika pembelajaran itu bermakna siswa akan mudah memahami materi tersebut.
        Proses belajar menghendaki prubahan prilaku dalam diri individu siswa sehingga diperlukan proses pengajaran yang benar-benar terprogram dan tersusun untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Dalam hal ini guru merupakan peran yang sangat penting. Dalam suatu pembelajaran guru harus menjebatani siswa agar siswa mudah dalam mengembangkan gagasan-gagasan baru. Gagasan baru ini muncul jika siswa telah memahami materi yang diberikan oleh guru mereka. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik harus mengetahui dan menguasai berbagai strategi atau model-model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
        Penerapan Teori Brunner diharapkan dapat menjadi sebuah terobosan atau inovasi yang tepat dalam pembelajaran di kelas sehingga menjadi lebih hidup, aktif yang berakibat pada peningkatan pemahaman siswa.
        Banyak sekali terobosan-trobosan yang bisa dilakukan salah satunya dengan penerapan teori Brunner yang berbasis inkuiri. Teori tersebut mengandung makna bahwa manusia sebagai pengolah informasi yang diterimanya untuk memperoleh pemahaman. Dasar dari teori ini adalah secara aktif belajar berinteraksi dengan lingkungan dan seseorang itu menciptakan sendiri suatu kerangka kognitif bagi dirinya sendiri.
            Dalam hal ini penulis mengambil dua variabel dalam proposal yang berjudul “penerapan teori Brunner untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep keliling dan luas  daerah bangun datar”. Sebagai variable X adalah penerapan teri Brunner dalam konsep bangun datar, dan variable Y adalah meningkatkan pemahaman siswa dalam konsep keliling dan luas  daerah bangun datar.
C.                HIPOTESIS TINDAKAN
        Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan menerapkan Teori Brunner hasil belajar siswa, pemahaman siswa serta pembelajaran pada materi bangun datar akan meningkat.
        Berdasarkan kerangka berpikir di atas, yang mempengaruhi proses belajar antara lain pemahaman dan keterampilan berpikir siswa dalam pembelajaran. Maka sebab itu penerapan teori Brunner yang berbasis inkuiri dalam pelaksanaanya akan memotivasi siswa dalam belajar karena setiap siswa melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis dalam menguasai materi yang ditugaskan dan dapat merumuskan sendiri keterangan yang diperoleh. Oleh karena itu, peneliti melalui penerapan teori Brunner ini menduga akan dapat meningkatkan pemahaman siswa.

       






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.    Setting dan Krakteristik Penelitian
1.      Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian enerapan Teori Brunner ini dilaksanakan di MTsN Darma Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan.
MTsN Darma merupakan salah satu sekolah yang memiliki guru yang sebagian besar adalah sarjana dengan jurusan dan ltar belakang pendidikan yang berbeda-beda dan memadai tetapi juga terdapat guru dengan kualifikasi D III. Khusus untuk guru bidang studi matematika lata belakang pendidikannya matematika dari berbagai universitas atau perguruan tinggi yang dipandang layak untuk memberikan pengajaran di sekolah tersebut.
Selanjutnya kurikulum yang digunakan oleh sekolah ini adalah kurikulum KTSP dengan materi yang disesuaikan dengan kurikulum dengan ada pengembangan yang bersifat local. Atas dasar tersebutproses pembelajaran dipandang cukup berkembang dan layak untuk dijadikan tempat penelitian.
Penelitian dilaksanakan pada awal semester genap. Penelitian ini dilaksanak selama 2 bulan yaitu dari akhir bulan Agustus sampai akhir Oktober.
                  
No
Kegiatan
Bulan
Agustus
September
Oktober
1
Izin Penelitian



2
Pengenalan Lingkungan



3
Observasi Pembelajaran



4
Tindakan Penelitian





2.      Subyek Penelitian
Seluruh subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII MTsN Darma pada tahun ajaran 2011/2012 dengan jumlah keseluruhan 200 siswa untuk kemudian diambil subyek yang akan di teliti yaitu 40 siswa dengan mengambil satu kelas yang heterogenitas pemahman dan prestasi akademiknya relative tampak jelas. Hal ini dilakukan atas dasar saran guru bidang studi matematika.  

B.     Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Setiap siklusnya memiliki 4 tahapan. Yaitu (1) Perencanaan, (2) Tindakan, (3) Pengamatan, dan (4) Refleksi.
Siklus I:
Perencanaan
1.      Semua tim peneliti secara kolaboratif, mempersiapkan bahan materi diberikan kepada siswa dalam bentuk LKS (Lembar Kerja Siswa).
2.      Menyiapkan pembentukan kelompok yang heterogen, dan memiliki salah satu siswa sebagai ketua kelompok.
3.       Membuat RPP
Tindakan
1.      Guru mengajarkan suatu materi dalam pembelajaran matematika
2.       Guru membentuk kelompok-kelompok siswa yang heterogen yang terdiri atas 4-5 siswa. Siswa memilih salah satu teman sebagai ketua kelompok.
3.      Guru membagikan soal berbasis penemuan dan setiap kelompok siswa bekerja berdasarkan Teori Brunner, yakni:
(a)guru memberikan contoh konsep (b) Membuat prediksi atau menafsirkan termasuk menemukan dan menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan apa yang ditanyakan dengan suatu variable tertentu, (c) Saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian (d) Menemukan dan menuliskan penyelesaian (menuliskan urutan komposisi penyelesaiannya)
4. Guru meminta kepada perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya di depan kelas.


Pengamatan
Sesuai dengan indikator keberhasilannya, maka fokus pengamatannya adalah sebagai berikut.
1.      Mengamati terjadinya peningkatan pemahaman belajar siswa, yang ditandai dengan keberanian siswa bertanya, tak ada kelompok siswa yang pasif serta tidak ada siswa dalam satu kelompom yang pasif.
2.      Mengamati cara menerapkan Teori Brunner berbasis penemuan agar diperoleh cara penerapan yang efektif.
3.      Mengamati peningkatan hasil belajar siswa kelas VII MTsN Darma pada pelajaran matematika khususnya dalam pemahaman konsep.
Refleksi
1.      Pada prinsipnya kegiatan refleksi adalah mengevaluasi semua aktivitas siklus yang sudah berjalan untuk memperbaiki kegiatan pada siklus berikutnya.
2.      Refleksi dilakukan secara kolaboratif oleh  peneliti.
Siklus II
Pada prinsipnya kegiatan pada siklus II sama dengan kegiatan pada siklus I. Kegiatan pada siklus II merupakan kegiatan perbaikan semua kekurangan pada siklus I. Perbaikan ini di dasarkan atas kegiatan refleksi pada siklus I. Materi pada siklus II melanjutkan materi pada siklus I (berkelanjutan).
Siklus III
Seperti pada siklus II, maka kegiatan pada siklus III sama dengan kegiatan pada siklus I dan II. Kegiatan pada siklus III merupakan kegiatan perbaikan semua kekurangan pada siklus II. Perbaikan pada siklus III ini didasarkan atas kegiatan refkeksi pada siklus II. Materi pada siklus III melanjutkan materi pada siklus II (berkelanjutan). Di akhir siklus III, kepada para siswa akan dikenai tes tentang materi yang sudah diberikan.

C.    Jenis Penelitian
Dikarenakan penelitian ini diarahkan pada suatu tindakan di kelas dengan tujuan untuk mencapai peningkatan pemahaman siswa pada pembelajaran matematika, maka penelitian ini dikategorikan kepada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) deskripsi kuantitatif. Penelitian ini bercirikan kepada perbaikan terus menerus sampai pada kepuasan peneliti untuk menjadikan tolak ukur keberhasilan.
Penelitian Tindakan Kelas deskripsi kuantitatif merupakan kegiatan pemecahan masalah yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan data, menganalisis data atau informasi untuk memutuskan sejauh maana kelebihan  dan kakurangan yang dilakukan.
D.    Instrument Penelitian
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam judul proposal penelitian ini yakni “Penerapan Teori Brunner untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep keliling dan luas daerah bangun datar”. Dengan demikian dapat diketahui bahwa penelitian ini terdiri dari dua variable yaitu:
1.      Variable bebas (X)  : Penerapan Teori Brunner
2.      Variable terikat (Y) : pemahaman siswa
Setiap tindakan penelitian, peneliti menggunakan instrument sebagai alat bantu peneliti dalam memperoleh data yang akurat. Dalam hal ini peneliti menggunakan angket, observasi, hasil tes dan wawancara yang melibatkan unsure guru dan siswa.
Hasil wawancara tersebut adalah catatan-catatan peneliti. Setiap hasil tes dan observasi pemahaman siswa dan catatan lapangan setiap satu kali siklus dianalisis dan digunakan untuk perbaikan (refleksi) terhadap tindakan pembelajaran agar tujuan akhir bisa dicapai ecara optimal.
Berdasarkan cara pelaksanaannya penelituan ini dikembangkan melalui pengembangan instrument observasi. Dalam pelaksanaannya peneliti menggunakan pedoman observasi tersebut. Observasi penelitian mencangkup tiga hal berikut:

a.       Observai tindak mengajar yang dilakukan oleh guru bidang studi
b.      Observasi tindak belajar dengan ukuran pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika
c.       Keterangan –keterangan tambahan yang bisa dijadikan pedoman yang berkaitan dengan tindak mengajar maupun belajar.
E.     Pengolahan Data
1.      Kategori dan Validitas Data
Data penelitian ini adalh dikategorikan pada focus penelitian yaitu pemahaman siswa pada pembelajaran matematika dengan penerapan Teori Brunner.
Untuk mendapatkan validitas data digunakan triangulasi yaitu pemanfaatan sesuatu yang ada di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau pembanding (Moloeng:1998:178). Dalam penggunaan triangulsi ini dilakukan langkah-langkah yaitu menggunakan angaket dan observasi dalam memperoleh data dari sumber yang berbeda, melakukan pengecekan dan analisis ulang dari data yang terkumpul, untuk pengecekan akhir penelitian mempertimbangkan arahan dari guru mata pelajaran.
2.      Interpretasi Data
Interpretasi data dilakukn dengan analisis yang dilakukan dari hasil data yang diperoleh. Data tersebut berupa hasil jawaban siswa pada instrument angket yang dilakukan, juga data dari tes dan analisis hasil observasi.
Pada pengolahan data untuk menganalisis aspek Teori Brunner yaitu dengan menghitung presentase skor total yang diperoleh siswa dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Untuk mendapat dat observasi dilakukan pada saat tindakan dengan pengamatan yang dilakukan pada saat melakukan diskusi dan presentasi di sat pembelajaran berlangsung. Pengamatan ini dilakukan oleh peneliti dan guru mata pelajaran dengan criteria masing-masing items berupa empat pilihan dengan  urutan skor 4.
Dikarenakan hasil observasi ini dilakukan oleh dua orang (peneliti dan guru bidang studi) maka kemudian penghitungannya menggunakan rumus Boich yaitu sebagai berikut:

P1 : penilaian pengamat 1
P2 : penilaian pengamat 2
Hasil interpretasi data terebut selnjutnya digunakan untuk mendapatkan informasi dan pelaksanaan tindakan selanjutnya
F.     Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukn melalui proses sebagai berikut:
a.       Identifikasi masalah yang dilakukan melalui orientasi dan observasi awal
b.      Pelaksanaan, analisis dan refleksi terhadap tindakanpembelajaran pada siklus I, II dan III
c.       Observasi aktivitas guru dan partisipasi siswa selama proses tindakan pembelajaran
d.      Evaluasi yng dilakukan dengan berdasarkan pada refleksi di akhir setiap siklus
e.       Wawancara dengan guru mata pelajaran matematika pada saat sebelum dan sesudah pelaksanan tindakan pmbelajran.









  






DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran Cet.ke-7. Jakarta:Bumi Aksara.
Junaedi dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Surabaya: LAPIS-PGMI.
 Roestiyah .1990. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Surya, Muhammad.2004.Psikologi Belajar dan Pengajaran.Bandung: Pustaka Bani   Quraisy.
Syah, Muhibin. 2009. Psikologi Belajar.  Jakarta :Rajawali Press.
Trianto . 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta : Bumi Aksara.

0 Comments On "PROPOSAL PENELITIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )"

Powered By Blogger
Powered by Blogger.

IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Tadris Matematika

Blogger Templates

About Me

My Photo
Hera Herawati
View my complete profile